#CERBUNG : Cinta Kelam Jilid I

by - 10:00:00 AM

PART I


Dibawah tiupan angin semilir ku renungkan segala kisah klasik yang pernah ku miliki..
Tak masalah dengan segala upaya yang pernah kulakukan sebelum-sebelumnya, karena memang sebenarnya diri ini masih mengenang kisah masa lalu. Segala rasa bahagia yang diakhiri dengan derita telah kuselami dalam rumitnya kisah lalu. Tak banyak berkata, namun perenungan yang penuh makna lebih ku kedepankan. Hubungan yang singkat tetapi berkesan hanya mampu kualami bersama dirimu. 
  • Kau berikan aku sejuta keindahan dalam minggu-minggu yang kulalui bersamamu. 
  • Kau perlakukan aku selayaknya sang Dewi di kerajaanmu. 
  • Kau sayangi aku dengan segenap Cinta Kasihmu yang memang ketika itu aku berpikir ketulusan sejati yang kuperoleh. 
Aku mempercayaimu dengan sebenar-benarnya makna sebuah "Kepercayaan". Kepercayaan yang kubangun dengan perasaan pahit, bimbang, juga dilema. Bagaimana tidak, dalam awal-awal kau dan aku menjalin sebuah hubungan, kudapati sebuah pesan kaleng yang mengaku sebagai mantanmu mengintrogasi ku dengan berbagai macam pertanyaan. Ingin sekali ku abaikan namun hati ini berasa tidak tenang. Malam itu aku merasa sangat uring-uringan, tak paham apa yang mesti aku lakukan. Perasaan kesal dan penasaran telah bercumbu menjadi satu waktu itu. Keesokan harinya aku memberanikan diri untuk membalas semua pesan kaleng itu untuk menggugurkan segala rasa penasaranku. Kami berkenalan satu sama lain, dia mulai membuka diri untuk bercerita panjang lebar tentang pengalaman yang pernah dialaminya selama menjalin hubungan dengan si Dia. Seketika aku berada dalam keterkejutan yang luar biasa mendengar pernyataan yang dirinya lontarkan, airmata mendadak berjatuhan dipipi ini. Aku merasa sangat dibohongi dan dicampakkan. Rasanya aku ingin sangat marah dan melempar apapun yang ada disekelilingku dan mencoba menutup telinga jikalau apa yang barusan aku dengar ialan sebuah Kebohongan Besar! Wanita itu mengaku-ngaku pernah dikhianati, dirinya diselingkuhi oleh sahabat SMA-nya sendiri. 


Bisa dibayangin gimana hancurnya berada diposisi dia. Seorang sahabat, yang dipercaya bakalan setia sehidup semati, tempat berbagi kasih, cerita juga duka malah berubah jadi sosok yang teramat kejam melebihi kejamnya seorang musuh dengan berkhianat mempacari kekasih sahabatnya sendiri. Disitu aku mulai merinding dan was-was, sebenarnya sosok seperti apa Kekasihku itu. Pertemuan yang teramat singkat apakah mampu membutakan segalanya? akupun menjadi semakin tidak mengenal dia. Ku coba renungi dalam-dalam kenyataan pahit ini, tangisan membludak tiada terhenti. Aku lemah, tak kuasa menyimpan semua, aku butuh seseorang untuk menenangkan aku, aku butuh pundak untuk melepas segala ketakutanku. Tetapi semuanya terasa tak mungkin! tak mungkin aku menceritakan aib kekasihku sendiri. Apa kata mereka nanti jikalau mereka mengetahui siapa sebenarnya yang kini mendampingiku. Aku tak ingin mereka memandang rendah siapa dirinya, karena aku mencintainya!.
Cinta memang membutakan segalanya. Aku memlilih diam dan bersikap seperti biasa padanya pada saat hari pertemuan ku dengannya. Namun, memang agak sedikit canggung, aku pun yakin dirinya menyadari sedikit perubahan sikapku hari itu. Aku tak peduli! 


Dalam batin ku tak percaya! Apakah benar apa yang dikatakan mantannya itu?
Siapakah dibalik sosok Dia yang kulihat memang sangat menyayangiku?
Adakah pengkhianatan yang sudah dia lakukan diam-diam terhadapku?
Ya begitu banyak pertanyaan yang tak sanggup aku lontarkan dalam benak ini. Aku terjepit diantara ruang sempit yang kedua sisinya sama-sama menyakitkan. 


Ku pikirkan semua masak-masak untuk memperoleh keputusan yang tepat. 
Aku yang masih menginginkan mu..
Aku yang masih membutuhkan mu..
Aku yang masih ingin merindukan mu lebih lama lagi..
Ku pilih untuk lebih percaya lagi pada dirimu, ku abaikan segala celotehan yang kudengar. Tak peduli! yang ku tahu aku mencintainya.

Aku yang masih bersikap biasa padamu namun terdapat sedikit kekakuan membuat dirimu bertanya-tanya, 

X : "Ada apa dengan kau? apakah aku telah melakukan kesalahan?"
     "katakanlah! jangan buat aku merasa bersalah dengan sikapmu yang tak jelas seperti ini?"

Aku terperanga oleh pertanyaan-pertanyaannya. Aku mulai mencoba mengatur napas yang tadinya terasa patah-patah tak berarah untuk berikan jawaban.

Y : "Aku baik ko, hehhe mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"
X : "Yakin? baiklah kalau begitu. Aku berharap memang tidak ada apa-apa."

Aku tersenyum menahan pahit yang kurasakan, tapi yasudahlah! toh aku sudah memutuskan untuk lebih mempercayaimu.



Seiring berjalannya waktu, aku menapaki jalan yang tak kukenali begitu perlahan. Berdoa penuh harap tiada lagi kenyataan yang menyesakkan terlintas dalam benak yang sudah hampir pecah karena menahan segala keganjalan. Namun tiada kusangka, bukannya aku semakin bersahabat dengan keadaan malah sepertinya aku semakin terperanjat dalam kesesakan tanpa akhir. Entah aku pura-pura bahagia dalam kebodohan atau memang bodoh akupun terus menerus memaafkan setiap kelakuan abnormalnya. 


*to be continued*

You May Also Like

2 comment